Togog Menggugat Para “Dewa”


Dalam sebuah penampilan wayang kulit yang di dalangi oleh seorang dalang yang cukup terkenal. Namun ada kejadian aneh pada saat pementasan yang mengharuskan tokoh wayang yang identik dengan kejelekan, keburukan, kerakusan, keserakahan, tapi juga sebenarnya juga dewa “menghilang”, tokoh itu adalah Togog. Perwatakan keburukan tokoh ini sudah nampak dari bentuk fisik yang buruk. Saat sang dalang meminta togog keluar ternyata togog ‘mbalelo’, dia pilih lari dari pementasan tersebut. Hingga sang dalang kebingungan mencarinya, namun oleh tokoh wayang yang identik dengan pengayom para pendawa sebagai pelambang kebenaran, tokoh tersebut adalah Ki Semar. Menunjukkan pada dalang bahwa Togog sedang ngumpet ke kamarnya tidak mau pentas malam ini. Oleh Ki dalang Semar di minta merayu togog untuk keluar, karena penonton sudah tidak sabar menunggu togog keluar, selain Ki dalang takut nantinya penonton demotrasi. Ki Dalang takut nanti ada kerusuhan, dan ujung-ujungnya Ki Dalang tidak dapat bayaran.
Namun walaupun Ki dalang sudah mengutus juru rayunya Semar dan di Tambah Kresno, tetapi Togog tetap tidak mau keluar. Dalam negoesasi togog sempat mengeluarkan option, “Togog mau keluar kalau nantinya dalam pementasan peran togog tidak identik dengan keburukan dan kebatilan. Ia ingin berperan sebagai juru selamat dunia, karena ia ingin berbuat baik bagi manusia dunia, ia ingin menjadi penasehat Pandawa, ingin menyembarkan kedamaian pada seluruh dunia pewayangan. Ia ingin menyerukan pada Pandawa dan Kurawa bahwa mereka di ciptakan sebagai saudara dan untuk berbuat baik, tidak perlu berebut kekuasaan yang akhirnya menimbulkan korban”. Option itu di sampaikan pada Semar dan Kresna agar di sampaikan pada Ki Dalang. Kalau tidak disepakati ia akan tetap tidak mau keluar, sebab ia sudah bosan menjadi tokoh yang tugasnya menghasut, mengadu domba, dan membuat kerusakan di muka bumi. Ia ingin berbuat yang lain dalam dunia ini. Ia ingin berkarya sebelum ajal menjemputnya.

Dalam negoisasi yang a lot, akhir Semar dan Kresna membawa option Togog untuk di sampaikan pada Ki Dalang. Walaupun Semar dan Kresna merasa option Togog tidak mungkin di kabulkan, sebab itu merusak pakem, melawan kodrat, melawan takdir sang Dewa. Tapi Semar dan Kresna tetap menjujung tinggi pendapat si Togog, karena mereka hanyalah sebagai tim lobi saja, masalah keputusannya bagaimana itu terserah pada Ki Dalang sebagai yang berhak memutuskan kebijakan.
Akhirnya Semar dan Kresna menghadap Ki Dalang mengutarakan option yang di sampaikan Togog. Mendengar itu Ki Dalang “Muntap” bagaikan kejatuhan meteor dari kahyangan. Sebab tidak mungkin option Togog itu di kabulkan. Kalau option itu di kabulkan maka bisa di artikan sebagai sikap ‘mbalelo’ pada Dewa. Dan itu berarti bisa di katakan sebagai Kiamat bagi dunia pewayangan.
Ki Dalang bingung menghadapi option Togog. Agar penonton tidak demontrasi maka Ki Dalang minta izin untuk Ke-Kahyangan menghadap menghadap Batara Guru untuk meminta rekomendasi agar mengizinkan memainkan watak Tokoh Togog seperti option yang di sampaikan pada Semar dan Kresna walaupun dengan pesimis.
Ki dalang dengan di antar Narado menghadap Batara Guru dan menyampaikan permintaan Togog. Ki Dalang dengan memberikan argumen yang kuat agar Batara Guru mengizinkan Togog berperan sebagai tokoh yang baik dalam satu malam saja. Dan tentunya dengan alasan agar penonton tidak mendemo Ki Dalang. Batara Guru meminta pada Ki Dalang menunggu sebentar, Batara Guru akan merapatkan dengan staf “Kadewatan”. Maka Kahyangan geger dengan panggilan mendadak dari Batara Guru. Karena mulai dewa kematian serta dewa kehidupan di panggil, untuk melihat kemungkinan-kemungkinan keinginan Togog itu di kabulkan. Setelah mengadakan rapat yang cukup a lot, maka Batara Guru mengizinkan pada pementasan malam ini Togog menjadi tokoh kebaikan, tapi dengan syarat setelah pementasan surat izin mengdalang bagi Ki Dalang tersebut di cabut. Karena dengan mengizinkan permintaan Togog berarti telah memutarbalik perjalanan dunia pewayangan. Takutnya nanti di ikuti oleh tokoh wayang lain dan juga para dalang-dalang. Untuk itu juga agar tidak terjadi kerusuhan dan pertumpahan darah pada malam ini, intinya juga agar rakyat tidak menderita.
Kemudian setelah mengungkapkan hasil rapat dengan para dewa, Batara Guru, didampingi oleh Narado serta Ki Dalang mengadakan jumpa Press agar dunia pewayangan tidak terjadi gunjang-ganjing. Dalam jumpa press ini Batara Guru membacakan Surat Keputusan Para Dewa yang isinya mengizinkan Ki Dalang memerankan tokoh Togog sebagai tokoh kebaikan dan juru selamat dunia pewayangan.
Setelah jumpa press Ki Dalang turun ke bumi dan menemui Togog dengan membawa SK Para Dewa. Akhirnya Togog mau kembali ke pentas dengan melakonkan sikaf yang baik dan bijak, walaupun masih sering terpeleset dengan perwatakan keburukan yang dia tokoh selama ini, hingga mendarah daging.
Pementasan ini akhirnya semakin terkenal dan para Dewa semua menyempatkan diri untuk melihat Togog yang melakonkan kebaikan. Karena pementasan mengandung nilai sejarah dan momumental sebab tidak akan terulang lagi. Selain Para Dewa melihat bahwa sebenarnya dalam Naluri manusia itu ada secercah cahaya kebaikan, walaupun sekotor apapun watak dan perilaku seseorang.
Di akhir pementasan Ki Dalang juga mengadakan Jumpa Press akan keputusan Para Dewa bahwa dia harus mengundurkan diri sebagai Ki Dalang. Dihadapan penonton dan para wartawan mengutarakan ke-ikhlasannya mundur dari profesi Dalang dan akan menyepi, memantapkan perguatan wacana tentang kehidupan yang secara tidak langsung telah juga di lontarkan pada permintaan Togog, yang menunjukkan begitu mengdalamnya pemahaman Togog tentang kehidupan terutama tentang baik-buruk, hitam-putih. Ke-mbalelo-an Togog dalam pementasan malam ini, merupakan bahan reflesi para tokoh di dunia Pewayangan.

Comments :

0 komentar to “Togog Menggugat Para “Dewa””

Posting Komentar

 

Mengenai Saya

Foto saya
AKU ADALAH SEORANG PENGEMBARA KATA-KATA